Positif

"Kalau mau menangis, menangislah sekarang. Habiskan sekarang. Jangan ada sisa, meski hanya satu tetes," pinta suami saat memberi tahu kalau ibu dinyatakan positif.

Aku yang sedari sore menunggu di rumah sendirian langsung lunglai mendengar kabar menghentak itu. Aliran darah terasa melambat. Diam dalam malam yang seketika terlihat jahat.

"Ibu positif?" tanyaku seolah tak percaya mendengar kabar dari suami yang sejak sore bersama ibu di rumah sakit. Pikiran meloncat-loncat tak karuan. Bergerak liar menuju titik hitam. Bayangan kelam serasa menutupi kewarasan. "Jangan, Tuhan. Aku mohon, jangan."

Aku menangis. Air mata mengucur deras bersamaan kelebat bayang yang mengganas. Entah kenapa pikiran hanya tertuju pada satu titik hitam itu. Aku takut. Semakin takut. Sulit keluar dari bayangan menakutkan yang kuciptakan sendiri.

"Sudah?" tanya suami yang sedari tadi mematung di depanku tanpa banyak kata. Ia benar-benar menyuruhku menangis sampai habis. "Nanti di depan ibu jangan menangis lagi. Jangan tambah beban ibu dengan air mata itu."

Kami bergegas ke rumah sakit yang berwaktu tempuh hanya lima menit dari rumah. Ibu sedang terbaring di atas dipan yang di sela-selanya banyak sampah. Sumpah. Itu sampah. Bagaimana bisa tempat tidur sementara pasien itu begitu kotor? Ada bekas macam-macam bungkus, sedotan, dan remah-remah beragam makanan. Menjijikan.

Mudah-mudahan ibu tidak melihat pemandangan kotor itu. Nanti malah menambah beban pikirannya. Apalagi dipan ibu disimpan di koridor rumah sakit, penghubung IGD ke WC. Kalau ada yang mau ke WC, pasti melewati pasien-pasien lain, termasuk ibu.

"Ibu pasti sembuh," ujarku sambil mengusap lengannya yang dibalut selimut jaket. Aku berusaha tegar di depannya. Memijatnya sebisaku, dan menatap penuh harap agar ibu segera keluar dari tempat bau ini. Tak banyak yang bisa kuucapkan, karena mulut ini kututup kuat agar air mata tidak tumpah. "Ibu pasti sembuh."

"Aamiin," balas ibu dengan suara lemas. Tatapan matanya sayu, membuatku semakin tak berdaya. Sekali batuk seakan menambah seratus kesakitan yang mendera ibu. Dua kali batuk, dua ratus kali bertambah sakit. Aku tidak bisa berbuat banyak. Hanya mengusap dan menatap ibu yang sedang menderita. "Doakan ibu, Teh. Maafkan ibu, ya."

Kata-kata terakhirnya itu terdengar seperti petir yang menyambar tanpa aba-aba dan langsung meruntuhkan pertahanan di kelopak mata. Aku menangis. Air mata mengucur deras tanpa bisa dibendung. Usapan tangan ibu ke kepala semakin membuat tangisku menjadi-jadi. Seketika muncul perasaan bersalah. Aku merasa menjadi anak tak berguna. Tidak bisa berbuat banyak di kala ibu menderita seperti itu.

"Ibu yang seharusnya memaafkan aku. Maafkan aku, Bu. Seharusnya sekarang Ibu tidak di sini. Kalau kemarin dokternya ada, pasti tidak akan seperti ini. Maafkan aku yang tak berguna, Bu."

"Sudah, Teh. Teteh tidak bersalah. Sudah, jangan menangis terus. Ibu pasti sembuh. Besok lusa pasti bisa pulang."

"Tapi, kan, Ibu positif?"

"Iya, positif itu kata manusia. Tapi bagaimana kalau Allah punya kehendak lain? Sekarang positif, besok negatif. Kalau Allah mau begitu, siapa bisa cegah? Allah itu Maha Segalanya, Teh. Mudah bagi Allah mengangkat penyakit ini. Sangat mudah. Semudah Allah menciptakan langit dan bumi."

Mendengar ibu bicara begitu aku jadi semakin lemas. Semakin merasa menjadi anak tak berguna. Seharusnya aku yang bicara seperti itu. Seharusnya aku yang menguatkan pasien, bukan sebaliknya.

Ibu kembali membuktikan kalau dia itu perempuan kuat. Perjalanan panjang hidupnya yang tak pernah lepas dari masalah telah membuat ibu menjadi pribadi yang luar biasa. Jika ada penghargaan perempuan terhebat di dunia, maka yang layak mendapatkannya adalah ibu.

Aku menyeka mata. Kata-kata ibu tadi seakan menjadi sihir yang membekukan air mata, sehingga aku bisa menahan tangis. Ibu tersenyum, meski itu tidak menyembunyikan rasa sakitnya yang menyayat. Tangan kanan ibu mengusap pelan perutnya yang menjadi pangkal sakit. Aku turut mengusap-usap perut ibu.

"Selama dirawat nanti ibu pasti bisa khatam Qur'an tiga kali, ya?" gumamku berusaha mencairkan suasana yang sedari tadi terasa horor.

"Insya Allah," jawab ibu mengangguk sambil tersenyum. Dan itu menjadi senyuman terakhir sebelum kami berpisah. Ibu dibawa dua petugas berbaju hazmat, naik ambulans menuju ruang rawat khusus.

Aku pulang bersama air mata yang kembali tumpah. 
#
Ibu benar. Rencana Allah takkan pernah salah. Mereka boleh saja memvonis ibu positif, tapi kekuasaan mutlak ada pada Allah. Setelah empat hari di rumah sakit, ibu boleh pulang. Hasil test kedua negatif. Alhamdulillah.

Komentar

Postingan Populer