4. The Reason
Akhir tahun 2019, dengan penuh kesadaran dan keyakinan, akhirnya saya memutuskan untuk resign sebagai guru TK. Tujuh tahun memang bukan waktu yang lama, tapi bagi saya tujuh tahun menjadi bagian dari sekolah itu adalah suatu hal yang luar biasa.
Manusia boleh berencana, tapi Allah adalah sebaik-baiknya perencana, dan saya yakin rencana Allah adalah yang terbaik bagi saya dan keluarga. Keadaan yang tiba-tiba berubah membuat saya mengubah jalur perjalanan dan mengikuti petunjuk arah yang lain. Sebuah keadaan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya.
Dua anak laki-laki saya berbeda usia 3 tahun. Kakaknya yang sebentar lagi genap 10 tahun kini duduk di kelas 4 di sebuah sekolah islam swasta di kota kami. Adiknya yang sebentar lagi genap 7 tahun, tahun lalu baru saja lulus dari TK dan sejak ia tahu akan masuk SD setelah lulus, ia begitu bersemangat ingin bersekolah di sekolah yang sama dengan kakaknya.
Pertengahan tahun 2019, ia pun lulus. Sesuai rencana, ia mendaftar ke SD tempat kakaknya sekolah. Maka sejak awal tahun ajaran kemarin, saya dan anak-anak berada di sekolah yang berbeda. Dua bulan pertama, anak-anak bersekolah dengan aman dan lancar. Hingga menginjak bulan ketiga, keadaan tiba-tiba berubah. Si bungsu seakan kehilangan semangatnya untuk sekolah. Ia mogok, tidak mau sekolah lagi.
Berbagai cara terus kami lakukan. Saya, ayahnya, dan gurunya mencoba berbagai cara agar ia mau sekolah lagi. Kami terus mencari solusi dari akar masalah yang membuat ia tidak mau sekolah. Beberapa waktu ia sempat mau mencoba sekolah lagi, tapi hanya bertahan beberapa hari dan setelah itu ia kembali mogok 😐.
Sampai akhirnya, setelah memohon petunjuk dari Yang Maha Memberi Petunjuk, serta setelah melalui pembicaraan panjang dan pertimbangan yang matang, maka saya dan Ayahnya memutuskan untuk memberhentikan si bungsu dari sekolah dan mencoba untuk menjalani home schooling.
Keputusan untuk home schooling tentunya kami ambil atas kesepakatan bersama: saya, Ayahnya, dan juga anak-anak, terutama si bungsu yang akan menjalaninya. Bahkan kakaknya pun kami tawari untuk menjalani home schooling sama seperti adiknya. Hanya saja, si Kakak sudah memiliki pilihan dan pertimbangannya sendiri, dan ia memilih untuk tetap bersekolah di sekolahnya saat ini.
Ibarat berada di pertigaan jalan, maka kita harus memilih jalan yang menurut kita mampu mengantarkan kita ke tujuan dengan aman dan lancar. Setiap jalan tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi disana.
Begitupun dengan jalan yang telah kami pilih. Ketika kami memutuskan untuk home schooling, maka kami, khususnya saya sebagai ibunya, harus mempersiapkan diri dan menerima segala konsekuensinya. Salah satu konsekuensinya adalah resign dan fokus menjalani home schooling 😊.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar