Ada Anak Bertanya pada Emaknya

Siang itu, aku pergi ke ATM sebuah bank dengan mengendarai motor bersama anak bungsuku. Selama perjalanan, kami tak pernah berhenti bercakap-cakap. Ada saja yang dibahas, mulai dari pembahasan ringan hingga pembahasan "kelas berat".

Apa yang kita lihat di jalan, bisa jadi bahan pembicaraan yang seru. Seperti saat Al -anak bungsuku- melihat sebuah baliho berisi iklan, dengan menampilkan seorang aktor yang sedang naik daun akhir-akhir ini.

"Mah, menurut Mama gantengan Ayah atau Aldebaran?" ujarnya tiba-tiba. Deg! Pertanyaan itu sungguh datang tanpa diduga. Bisa-bisanya ia membandingkan Ayahnya dengan Aldebaran. Wkwkwk..

Pertanyaan yang terlihat sepele, tapi nyatanya sulit untuk dijawab. Apakah aman jika aku mengatakan laki-laki lain lebih tampan dari ayahnya?. Faktanya, konsep kecantikan dan ketampanan itu relatif, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Secara kasat mata, Aldebaran memang tampan, lebih tampan daripada ayahnya Al. Tapi itu hanya sekedar penilaian mata tanpa melibatkan hati. Sementara ayahnya Al, memang tak setampan Aldebaran, namun tetap yang tertampan di hatiku. Hadeeeuuuh bucin gak siiih..hihi..

Mendengar jawabanku, si bungsu yang berusia 8 tahun hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Mungkin ia menertawakan kelakuan ibunya yang begitu memuja ayahnya, atau bisa jadi ia tak habis pikir mengapa Aldebaran bisa kalah ganteng dibanding ayahnya. Yaaah Nak, seganteng-gantengnya Aldebaran, dia tak akan bisa menandingi perjuangan ayahmu selama ini.

Di lain waktu, ia pernah dengan seriusnya bertanya kepadaku. "Ma, Mama teh cita-citanya memang jadi guru?". Aku yang sebenarnya memang tidak pernah bermimpi menjadi guru dibuat bingung dengan pertanyaannya. Jika aku jujur, aku takut ia menganggapku tak berhasil meraih cita-cita. Lalu haruskah aku mengarang jawaban agar tetap terlihat hebat di mata anakku?

Tidak. Menurutku terlihat baik bukan cara terbaik untuk menjadi baik. Jadi kuceritakan saja seadanya. Justru inilah kesempatanku untuk mengajarkan sebuah realita kehidupan, bahwa tak selamanya harapan itu bisa menjadi kenyataan. Karena kita tak pernah tahu skenario apa yang telah dituliskan Allah untuk kita. Apa yang menjadi harapan dan keinginan kita belum tentu baik untuk kita, karena Allah SWT Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan. Jadi, apapun yang terjadi saat ini, mari kita syukuri dan jalani dengan bahagia.

Komentar

Postingan Populer