Sebuah Panggilan (5) : Mencari Solusi

Ketika segala sesuatu kembali kepada fitrahnya maka akan kembali damai dan harmoni. Kaidahnya “Masalahmu bukan di luar sana tetapi ada di dalam kepalamu dan diseputar dirimu. Fokuslah pada potensinya bukan pada masalahnya”. Kalimat dari salah seorang pakar parenting tersebut begitu menancap di dalam hati.

 

Ketika memasuki fase baru yang tidak diduga ini, saya melakukan berbagai ikhtiar untuk mencari solusi dan jalan keluar. Selain memanjatkan do’a dan memohon petunjuk kepada Yang Kuasa, saya mencari berbagai referensi dari berbagai media, baik itu dari sharing bersama orang lain, buku-buku parenting, kajian parenting, maupun event dan media lainnya. Dengan cara demikian, alhamdulillaah saya bukan hanya mendapatkan berbagai referensi, tapi juga mendapatkan kekuatan tambahan yang membuat saya lebih survive dalam menjalani fase ini.

 

Dari semua referensi yang saya temukan, saya tertarik pada konsep pendidikan berbasis fitrah (Fitrah Based Education/FBE) yang dikembangkan oleh Ustadz Harry Santosa. Setelah membaca bukunya, mengikuti beberapa kajian dan membaca artikel-artikel karya beliau, saya merasa semakin bersyukur telah ada di fase ini. Fase yang menyadarkan saya akan fitrah saya yang sesungguhnya, dan fitrah yang harus saya tumbuhkan pada diri anak-anak.

 

Pada kasus bullying, menurut Ustadz Harry, ada beberapa poin yang harus kita perhatikan, diantaranya:

1.                  Sesungguhnya anak-anak yang rentan atau mudah dibully atau anak yang suka membully itu memiliki siifat unik tertentu. Yang perlu kita ingat adalah bahwa sifat unik ini merupakan kelemahan sekaligus kekuatannya. Anak yang memang memiliki sifat super sensitif atau empati yang sangat tinggi umumnya mudah di bully. Sebaliknya anak yang punya sifat unik mendominasi orang lain atau suka memimpin umumnya sangat mudah membully. Salah satu cara untuk menyalurkan sifat ini adalah dengan memberikan peran yang menyalurkan sifat unik ini menjadi aktifitas produktif.

2.                  Masalah supply maskulinitas dan feminitas dari orangtuanya. Kekurangan supply Ego dari ayah atau Supply Empaty dari ibu menyebabkan masalah pada ketidakseimbangan ego dan empati. Walaupun ada anak yang sejak kecil punya sifat unik sangat ego, atau sangat empati, mereka tidak akan mudah dibully atau menjadi pembully jika mendapat supply ego yang cukup dari Ayah dan supply empaty yang cukup dari ibunya selama masa anak anaknya. Maka dari itu, orangtua perlu memberikan sosok Ayah dan sosok Ibu yang memberikan supply seimbang

3.                  Ego Sentris atau Fitrah Individualitas yang tak tumbuh baik ketika berusia di bawah 7 tahun juga menyebabkan ananda kelak menjadi peragu dan mudah dibully. Beri pengakuan dan tanggungjawab secara bertahap untuk mengembalikan eksistensi dirinya.

 

Ketiga poin tersebut menjadi acuan bagi saya untuk mencari solusi. Saya menyadari bahwa firah individualitas Baya belum berkembang dengan baik di usianya saat ini. Maka saya pun harus sesegera mungkin mengerjakan PR ini. PR yang tentu tidak bisa hanya dikerjakan oleh saya sendiri, tapi juga oleh ayahnya Baya. Kami memiliki fitrah masing-masing yang harus dijalankan, firah keayahan dan fitrah keibuan. Fitrah kami saling berkolaborasi untuk menumbuhkan fitrah anak-anak.

 

Ya, saatnya kami kembali kepada fitrah, agar semuanya akan kembali cerah. Insyaa Allah..

Fokuslah pada cahaya, kelak kegelapan akan sirna.


(bersambung)

 








Komentar

Postingan Populer