Sebuah Panggilan (4) : Introspeksi
Apa yang terjadi pada diri dan hidup kita adalah takdir yang sudah digariskan Allah SWT. Setiap kejadian sekecil apapun pasti menyimpan banyak hikmah dan pelajaran. Hanya saja, kita sebagai manusia memang selalu mengartikannya dengan berbeda. Kadang kita menerimanya sebagai bentuk kenikmatan, ujian, teguran, cobaan, atau bisa saja sebagai musibah. Satu hal yang harus selalu kita yakini, semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah pada makhlukNya.
Begitupun dengan apa yang terjadi pada kami. Semakin kesini saya semakin yakin bahwa apa yang terjadi ini adalah bentuk kasih sayangNya. Jika tak ada kejadian ini, entah kapan saya menyadari PR pengasuhan saya. Mungkin saya masih akan terus terlena dengan karier dan urusan lainnya, sehingga menomorduakan peran utama sebagai ibu dan istri. Naudzubillah..
Berbekal niat dan keyakinan pada Allah, maka saya pun mulai membenahi kembali folder-folder pengasuhan yang sempat hilang, terhapus, atau masih belum terdownload. Bullying yang menimpa anak saya adalah sebuah sinyal atau lampu kuning dari Allah agar saya terus belajar menumbuhkan serta mengembangkan fitrah anak-anak sesuai tujuan mereka diciptakan.
Saya mulai membuka dan memeriksa kembali harddisk yang berisi software dan hardware perkembangan Baya. Saya harus memastikan apa saja program atau aplikasi yang sudah ada, hilang, atau justru belum terinstall. Ya, jika diibaratkan sebuah PC atau komputer, saya harus memastikan apa yang terjadi pada sistemnya. Apakah ada masalah pada softwarenya? Apakah ada program yang bekum terinstall? Atau mungkin ada virus atau malware yang mengganggu jalannya sistem?
Setelah diperiksa dan ditelusuri, saya pun menemukan beberapa software yang belum terinstall dengan baik. Secara kognitif, saya melihat perkembangan Baya sudah sesuai dengan tahapan usianya. Namun ternyata, ada domain perkembangan yang belum terbangun dengan baik di usianya saat itu, yaitu domain afeksi dan sosial emosionalnya. Jika mencari siapa yang salah, tentu yang salah adalah saya sebagai ibunya, yang selama ini belum memberikan stimulus yang optimal. Meskipun demikian, saya sadar bahwa kesalahan ini adalah salah satu poin penting yang harus saya insyafi dan pelajari, bukan untuk diratapi. Saya selalu yakin pertolongan Allah selalu dekat dengan mereka yang mau mendekatiNya. Jadi, hal pertama yang saya lakukan adalah beristigfar, memohon ampun, serta memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar