Sebuah Panggilan (1) : Pengantar

Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 11: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.”(QS. Al-Hujuraat [49]: 11)

Ayat ini berkaitan dengan etika komunikasi di dalam masyarakat. Melalui ayat ini, Allah SWT memberikan tuntunan kepada umat Islam untuk menjaga perasaan orang lain, tidak mudah menyinggung orang lain, baik dari perkataan maupun perbuatan. Islam menganjurkan hal tersebut, karena perilaku mudah menyinggung orang lain dapat menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Oleh karena itu, Allah SWT melarang perilaku mengolok-olok atau merendahkan orang lain. Sebab, semua makhluk di hadapan Allah SWT itu sama. Jadi, sangatlah tidak pantas dan merupakan suatu hal yang tidak terpuji apabila kita merendahkan dan mengolok-olok orang lain.

Ada sejumlah riwayat mengenai sebab turunnya ayat ini. Menurut Tafsir al-Maraghi, diriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ejekan yang dilakukan kelompok dari Bani Tamim terhadap para sahabat Rasul yang miskin seperti Bilal, Shuhaib, Salman al-Faris, Salim Maula Abi Huzaifah, dll. Riwayat lainnya menyebutkan bahwa ayat ini berkenaan dengan ejekan sebagian perempuan kepada Shafiyah binti Huyay bin Akhtab (salah seorang istri Nabi) yang keturunan Yahudi. Nabi kemudian berkata kepada Shafiyah: "mengapa tidak kamu katakan kepada mereka bahwa bapakku Nabi Harun, pamanku Nabi Musa dan suamiku Nabi Muhammad?!" (https://islam.nu.or.id/)

Lalu mengapa saya membahas hal ini?

Beberapa waktu yang lalu, teman saya menanyakan ihwal nama panggilan anak bungsu saya yang berubah. Ya, beberapa bulan ke belakang, anak bungsu saya mengambil sebuah keputusan dengan persetujuan dari kami orangtuanya, untuk mengganti nama panggilannya.

Nama lengkapnya Bayanaka Arnawama Yardhan Ashena. Secara istilah, Bayanaka dalam bahasa arab maupun sansekerta berarti ‘luar biasa’. Arnawama diambil dari bahasa india (sansekerta) yang berarti ‘samudera’. Yardhan artinya adalah ‘raja’ dari bahasa arab, sementara Ashena adalah gabungan dari nama Ayah dan Ibunya. Jadi arti nama si bungsu secara lengkap adalah raja yang luar biasa dengan hati seluas samudera. Aaminn..

Awalnya,  ia dipanggil dengan nama panggilan BAYA. Jadi jika disatukan dengan nama panggilan kakaknya, maka anak kami dipanggil JAYABAYA. Jayabaya merupakan nama atau istilah yang disukai dan memiliki makna penting bagi ayah mereka. Oleh karena itu, nama kedua anak kami jika disingkat huruf awalnya saja dan digabungkan, akan menjadi JAYABAYA.

Sejak lahir sampai usia 6 tahun, tepatnya sampai ia lulus TK, tak ada masalah apa-apa dengan nama panggilan tersebut. Namun, saat ia masuk SD, sesuatu yang tidak diduga terjadi di dalam lingkungannya. Awalnya kami menganggap ini adalah hal yang biasa, lumrah terjadi pada anak-anak, apalagi usia SD. Namun ternyata, ini tidak biasa-biasa saja bagi anak bungsu kami. Bahkan, kejadian ini menjadi salah satu faktor yang membuat si bungsu mogok sekolah, sampai akhirnya keluar dan memilih untuk homeschooling. Ya, sebuah panggilan bisa berpengaruh besar bagi hidup seseorang, bukan???

(bersambung)

Komentar

Postingan Populer