November Review 1 : Kittens are Coming
November adalah salah satu bulan bersejarah bagi saya. Bagaimana tidak, saya terlahir di bulan ini. Dulu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang dinanti-nanti. Meskipun tidak pernah ada perayaan khusus, namun selalu ada hal atau hadiah spesial yang diberikan oleh ibu dan bapak.
Sekarang pun bulan ini masih menjadi bulan favorit saya. Meskipun sejak menikah, saya akhirnya menyadari beberapa hal yang membuat saya tidak menjadikan hari lahir sebagai sesuatu yang harus dirayakan. Bukan berarti tidak bersyukur, karena rasa syukur tidak harus diungkapkan dalam bentuk perayaan. Sejatinya, rasa syukur itu pun harus selalu ada, bukan hanya di hari lahir, melainkan setiap hari.
Maka, sama seperti bulan-bulan lainnya, november tahun ini pun berjalan seperti biasa.
Di awal bulan, saya mendapatkan kejutan dari anak-anak. Pagi itu, anak-anak dan ayahnya pergi bersepeda ke TMP. Sepulang bersepeda, mereka tiba di rumah dengan mata berbinar-binar sambil membawa kardus bekas. Ternyata, kardus bekas itu berisi 3 bayi kucing yang masih sangat imut. Anak-anak menemukan bayi kucing tergeletak di dalam kardus yang tak bertuan. Karena iba dengan ketiga bayi itu, anak-anak berinisiatif membawanya ke rumah.
Reaksi saya? Tentu saja kaget. Saya memang menyukai kucing, tapi tidak terlalu suka merawat kucing. Bagi saya memelihara binatang hanya menambah beban pekerjaan domestik yang sudah menggunung. Jadi, ketika mereka menginginkan memelihara kucing (lagi), saya agak berat untuk memberikan lampu hijau.
Baru satu bulan setelah kucing yang dipelihara selama 8 bulan kemarin dipindahkan, sudah datang lagi 3 anak kucing yang baru. Sebelumnya, anak-anak pernah memelihara 2 anak kucing. Saya izinkan setelah anak-anak siap untuk bertanggung jawab memeliharanya, dari mulai membersihkan kotoran, memberi makan , dan lain sebagainya. 8 bulan berlalu, si sulung lulus menjalankan tanggung jawabnya. Si bungsu masih perlu latihan untuk mampu merawat binatang peliharaan.
Singkat cerita, 1 kucing tiba-tiba pergi dari rumah dan tidak kembali lagi. Dan ternyata, malah saya yang paling melow saat itu. Tiga hari pertama, saya nangis di depan kandang kucing. Berharap si kucing bisa pulang lagi ke rumah. Tetapi, sepertinya kucing itu tidak akan kembali lagi. Oleh karena itu, atas saran ayahnya, saya dan anak-anak memindahkan kucing satunya lagi ke rumah neneknya agar si kucing lebih bebas dan memiliki banyak teman. Sesekali, kami menengoknya sambil membawa makanan kesukaannya.
Satu bulan berlalu, tiba-tiba sekarang datang lagi 3 bayi kucing. Sebenarnya kali ini saya tidak terlalu khawatir dengan perawatannya, karena dari pengalaman sebelumnya si sulung sudah bisa diandalkan dan telaten dalam hal itu. Selain itu, dari beberapa literatur dan artikel yang saya baca, memelihara binatang bisa menjadi salah satu stimulus bagi anak laki-laki untuk mengasah empati dan menyeimbangkan maskulinitasnya.
Hal yang membuat saya justru merasa berat adalah takut kehilangan lagi. Ya, saya memang bukan pecinta kucing. Tapi ketika saya sudah sayang, akan berat bagi saya untuk kehilangan. Itulah saya yang melankolis, yang kalau nonton drama yang mengandung bawang aja bisa nangis sesenggukan.
Pada akhirnya, setelah melihat keseriusan anak-anak dan menimbang beberapa hal, saya akhirnya mengizinkan anak-anak merawat tiga bayi kucing itu, dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Beberapa hari berlalu, anak-anak terlihat mampu merawat bayi kucing dengan cukup baik. Ternyata perawatan kali ini lebih menantang dibandingkan sebelumnya, karena bayi kucing ini sepertinya baru berusia beberapa hari. Alhasil, mereka pun masih harus dibantu untuk menyusui.
Di hari kesekian, ketakutan saya terjadi. Berawal dari hilangnya satu bayi kucing yang tak kunjung kembali dan tak ditemukan meski sudah dicari kemana-mana. Saya dan anak-anak pun belajar mengikhlaskan, dan mendoakan yang terbaik untuk si kucing. Beberapa hari kemudian, satu kucingnya lagi ditemukan sudah tak bernyawa di dalam kandang. Kucing yang satu ini memang berbeda dengan yang lainnya. Bukannya bertambah besar seperti yang lainnya, dia malah tampak semakin kurus. Qadarullaah, dia harus pergi untuk selamanya.
Anak-anak tentu merasa sedih. Si sulung tak kuasa menahan air matanya. Sementara si bungsu berusaha tegar sambil menguatkan emaknya yang menangis sesenggukkan. Ya, untuk kedua kalinya saya menangis meratapi kucing yang hilang. Tapi kali ini tidak lama. Saya harus lebih bijak menerima kehilangan dan mengelola emosi. Saya sadar bahwa kesedihan mendalam dan berlarut tidak baik untuk ditunjukkan kepada anak-anak. Saya harus memberikan teladan bahwa takdir Allah itu adalah yang terbaik, dan harus kita terima dengan cara yang baik pula.
Setelah kehilangan 2 ekor anak kucing, kini tinggallah 1 kitten lagi sebatang kara. Mudah-mudahan dia bisa bertahan dan tumbuh dengan baik. Dan mudah-mudahan kita bisa menjaga dia dengan baik. Aamiin..
Oh november kali ini telah mengajarkan arti kehadiran dan kehilangan.
Sekarang pun bulan ini masih menjadi bulan favorit saya. Meskipun sejak menikah, saya akhirnya menyadari beberapa hal yang membuat saya tidak menjadikan hari lahir sebagai sesuatu yang harus dirayakan. Bukan berarti tidak bersyukur, karena rasa syukur tidak harus diungkapkan dalam bentuk perayaan. Sejatinya, rasa syukur itu pun harus selalu ada, bukan hanya di hari lahir, melainkan setiap hari.
Maka, sama seperti bulan-bulan lainnya, november tahun ini pun berjalan seperti biasa.
Di awal bulan, saya mendapatkan kejutan dari anak-anak. Pagi itu, anak-anak dan ayahnya pergi bersepeda ke TMP. Sepulang bersepeda, mereka tiba di rumah dengan mata berbinar-binar sambil membawa kardus bekas. Ternyata, kardus bekas itu berisi 3 bayi kucing yang masih sangat imut. Anak-anak menemukan bayi kucing tergeletak di dalam kardus yang tak bertuan. Karena iba dengan ketiga bayi itu, anak-anak berinisiatif membawanya ke rumah.
Reaksi saya? Tentu saja kaget. Saya memang menyukai kucing, tapi tidak terlalu suka merawat kucing. Bagi saya memelihara binatang hanya menambah beban pekerjaan domestik yang sudah menggunung. Jadi, ketika mereka menginginkan memelihara kucing (lagi), saya agak berat untuk memberikan lampu hijau.
Baru satu bulan setelah kucing yang dipelihara selama 8 bulan kemarin dipindahkan, sudah datang lagi 3 anak kucing yang baru. Sebelumnya, anak-anak pernah memelihara 2 anak kucing. Saya izinkan setelah anak-anak siap untuk bertanggung jawab memeliharanya, dari mulai membersihkan kotoran, memberi makan , dan lain sebagainya. 8 bulan berlalu, si sulung lulus menjalankan tanggung jawabnya. Si bungsu masih perlu latihan untuk mampu merawat binatang peliharaan.
Singkat cerita, 1 kucing tiba-tiba pergi dari rumah dan tidak kembali lagi. Dan ternyata, malah saya yang paling melow saat itu. Tiga hari pertama, saya nangis di depan kandang kucing. Berharap si kucing bisa pulang lagi ke rumah. Tetapi, sepertinya kucing itu tidak akan kembali lagi. Oleh karena itu, atas saran ayahnya, saya dan anak-anak memindahkan kucing satunya lagi ke rumah neneknya agar si kucing lebih bebas dan memiliki banyak teman. Sesekali, kami menengoknya sambil membawa makanan kesukaannya.
Satu bulan berlalu, tiba-tiba sekarang datang lagi 3 bayi kucing. Sebenarnya kali ini saya tidak terlalu khawatir dengan perawatannya, karena dari pengalaman sebelumnya si sulung sudah bisa diandalkan dan telaten dalam hal itu. Selain itu, dari beberapa literatur dan artikel yang saya baca, memelihara binatang bisa menjadi salah satu stimulus bagi anak laki-laki untuk mengasah empati dan menyeimbangkan maskulinitasnya.
Hal yang membuat saya justru merasa berat adalah takut kehilangan lagi. Ya, saya memang bukan pecinta kucing. Tapi ketika saya sudah sayang, akan berat bagi saya untuk kehilangan. Itulah saya yang melankolis, yang kalau nonton drama yang mengandung bawang aja bisa nangis sesenggukan.
Pada akhirnya, setelah melihat keseriusan anak-anak dan menimbang beberapa hal, saya akhirnya mengizinkan anak-anak merawat tiga bayi kucing itu, dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Beberapa hari berlalu, anak-anak terlihat mampu merawat bayi kucing dengan cukup baik. Ternyata perawatan kali ini lebih menantang dibandingkan sebelumnya, karena bayi kucing ini sepertinya baru berusia beberapa hari. Alhasil, mereka pun masih harus dibantu untuk menyusui.
Di hari kesekian, ketakutan saya terjadi. Berawal dari hilangnya satu bayi kucing yang tak kunjung kembali dan tak ditemukan meski sudah dicari kemana-mana. Saya dan anak-anak pun belajar mengikhlaskan, dan mendoakan yang terbaik untuk si kucing. Beberapa hari kemudian, satu kucingnya lagi ditemukan sudah tak bernyawa di dalam kandang. Kucing yang satu ini memang berbeda dengan yang lainnya. Bukannya bertambah besar seperti yang lainnya, dia malah tampak semakin kurus. Qadarullaah, dia harus pergi untuk selamanya.
Anak-anak tentu merasa sedih. Si sulung tak kuasa menahan air matanya. Sementara si bungsu berusaha tegar sambil menguatkan emaknya yang menangis sesenggukkan. Ya, untuk kedua kalinya saya menangis meratapi kucing yang hilang. Tapi kali ini tidak lama. Saya harus lebih bijak menerima kehilangan dan mengelola emosi. Saya sadar bahwa kesedihan mendalam dan berlarut tidak baik untuk ditunjukkan kepada anak-anak. Saya harus memberikan teladan bahwa takdir Allah itu adalah yang terbaik, dan harus kita terima dengan cara yang baik pula.
Setelah kehilangan 2 ekor anak kucing, kini tinggallah 1 kitten lagi sebatang kara. Mudah-mudahan dia bisa bertahan dan tumbuh dengan baik. Dan mudah-mudahan kita bisa menjaga dia dengan baik. Aamiin..
Oh november kali ini telah mengajarkan arti kehadiran dan kehilangan.
Komentar
Posting Komentar