Inilah Ayah (Part 2)

Alhamdulillaah biidznillah, usia pernikahanku kini telah memasuki tahun ke 13. Tentu ada banyak lika-liku yang terjadi dalam perjalanan rumah tangga kami. Kehadirannya selama 13 tahun ini semakin menambah rasa syukurku pada Yang Maha Kuasa. Ia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah dengan sangat berani menerimaku dengan segala kelebihan dan kekuranganku.

Ya, kami memang bukan orang yang sempurna, tapi saling menyempurnakan. Aku yang manja, diayomi oleh ia yang dewasa. Aku yang perfeksionis, diimbangi oleh ia yang super santai. Aku yang sumbu pendek, disejukkan oleh ia yang penyabar. Aku yang ekspresif diimbangi oleh ia yang datar alias biasa-biasa aja. Hehe..

Ya, ayah adalah orang yang datar. Bukannya tak bisa berekspresi, tapi ia selalu menghadapi segala sesuatu dengan tenang, kalem, dan santai. Bagi orang yang ekspresif dan cenderung lebay seperti aku, hal itu kadang membuat gregetan sendiri. Tapi justru mungkin dengan cara itulah aku bisa menahan sisi kelebayanku agar tidak menjadi alay.wkwk..

Selain datar, ayah adalah orang yang jauh dari kata romantis secara verbal. Ia sangat jarang menyatakan perasaan cintanya secara langsung lewat kata-kata. Tapi, ukuran romantis itu kan bukan hanya sekedar kata-kata ya? Ada banyak hal yang bisa mendefinisikan keromantisan. Bekerja dari pagi sampai sore untuk menafkahi keluarga pun adalah hal yang sangat romantis bukan? Dan ada salah satu kebiasaannya yang selalu ia lakukan hampir setiap hari. Setiap akan pulang kerja, ia pasti akan mengirimkan pesan terlebih dahulu, menanyakan apakah ia perlu membeli makanan atau apakah ada makanan yang aku inginkan untuk ia bawa ke rumah. Bagiku, hal itu sudah merupakan salah satu keuwuan yang hakiki.

Sejak kenal sampai saat ini, ayah tetap sederhana. Penampilannya, gaya hidupnya, bahkan sampai potongan rambutnya pun rasanya tak ada yang berubah sejak dulu. Hanya kumis, jenggot, dan guratan wajah saja yang berubah sebagai bukti bertambahnya usia. Stylenya tetap sama. Celana panjang hitam, kaos, dan kemeja panjang dengan warna-warna gelap. Begitupun sandal dan sepatu. Dari sekian banyak orang yang kutemui, rasanya hanya ayah saja yang tetap konsisten mempertahankan gaya jadulnya. Sudah berbagai jurus dan rayuan aku coba, agar ia mau memakai sepatu kets yang agak kekinian. Tapi ia tetap bergeming.

Di balik kekonsistenannya dalam hal fashion, ia adalah orang yang sangat terbuka menerima masukan ataupun perubahan. Terutama dalam hal pengasuhan anak. Ia adalah pemimpin keluarga yang bijaksana. Ia tidak takut untuk dikritik. Ia selalu terbuka menerima diskusi tentang apapun. Di tengah kesibukannya menjalankan tanggung jawab mencari nafkah di luar rumah, ia tetap berusaha menjalankan peran keayahannya di rumah.

Alhamdulillaah..

Terima kasih ayah..

Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi setiap langkah kita, menyatukan kita dalam ridhaNya, menjadi keluarga sehidup sesyurga. Aamiin

Komentar

Postingan Populer