Inilah Ayah (Part 1)

Ayah. Sebuah panggilan untuk suami sekaligus ayah dari anak-anakku. Sejak menyandang status sebagai seorang ayah, Ia juga resmi kupanggil dengan sebutan itu. bukan lagi Aa, seperti saat kami belum memiliki anak.

Ia memang sudah seperti ‘ayah’ baru bagiku, apalagi semenjak bapak pergi meninggalkan dunia ini selama-lamanya. Tak ada lagi sosok Bapak, tapi selalu ada Ayah yang menggantikan sosok seorang bapak.

Menceritakan sosok ayah itu gampang-gampang susah. Bukan karena tak ada yang spesial, tetapi justru karena terlalu spesial. Seperti sosoknya yang memang sangat spesial bagiku. Jika ada yang bertanya siapa orang yang paling tahu siapa aku, maka jawabannya adalah ayah. Mengapa dia? Mengapa bukan bapak atau ibu?

Begini sejarahnya.

Aku terlahir sebagai seorang anak tunggal yang introvert. Saking introvertnya, aku sampai tak berani curhat sama orangtuaku sendiri. Malu rasanya. Aku lebih memilih memendamnya daripada harus bicara ke orang lain, walaupun itu orangtuaku atau sahabatku sendiri. Aku punya beberapa sahabat. Tapi sedekat apapun aku dengan sahabatku, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya yang terjadi pada diriku. Aku lebih nyaman menuliskannya dalam buku diary.

Lalu datanglah lelaki itu dalam hidupku. Lelaki yang memintaku menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Lelaki itulah yang telah membuatku sedikit demi sedikit belajar mengeluarkan unek-unek dalam hatiku. Dengannya, aku mampu membagi perasaaanku, bagaimanapun bentuknya. Terkadang dalam bentuk kebahagiaan, kesedihan, haru, ataupun perasaan lainnya.

Itulah mengapa, pada akhirnya ayah lah orang yang paling tau siapa dan bagaimana aku. Bahkan, ia sudah lebih tau apa yang aku rasakan sebelum aku bicara. Entahlah, terkadang aku berpikir ia punya indera keenam yang bisa membaca pikiran orang lain.hihi..

Ayah adalah seorang lelaki yang unik.

Ia sangat menyukai pekerjaannya sebagai seorang jurnalis, padahal ia seorang yang introvert. Tidak banyak bicara, tapi tulisan-tulisannya selalu membuatku terpesona. Ia tidak suka keramaian, tapi sangat totalitas ketika ia sedang melakukan tugasnya.

Ia sangat penyabar. Selama hidup dengannya, sangat jarang sekali ia marah, walaupun pada kenyataannya aku sering membuatnya tidak nyaman. Semarah-marahnya, ia tak pernah melibatkan fisik. Ia lebih memilihi diam ketika marah, dan bicara untuk menyelesaikan masalah. Marahnya pun bukan tanpa alasan. Ia hanya marah jika memang perlu, tidak mudah marah seperti aku.wkwk..

Ia akan marah jika mendapati aku menunda shalat. Ia akan marah jika aku lupa pakai kaos kaki walaupun cuma ke warung samping rumah. Ia akan marah jika aku kedapatan make up dan pakai lipstik keluar rumah.

(bersambung)

Komentar

Postingan Populer