PTS ONLINE
Tulisan ini adalah tentang PTS, singkatan dari Penilaian Tengah Semester. Sebutan bagi suatu proses ujian sekolah yang dilaksanakan pada pertengahan semester. Tujuannya tentu saja untuk melihat dan mengevaluasi sejauh mana pencapaian anak dalam kegiatan belajar selama setengah semester.
Di dunia pendidikan, tentu ini sudah hal yang lumrah. Akan selalu ada penilaian harian, pertengahan semester, akhir semester, hingga penilaian akhir tahun. Hanya saja, ujian di tahun ajaran ini menjadi sedikit berbeda, karena dilakukan dari rumab masing-masing secara online atau daring.
Ya, pandemi Corona yang muncul sejak Maret lalu nyatanya belum sepenuhnya berakhir. Bahkan menurut informasi yang beredar, peningkatan kasusnya lebih tajam dibandingkan sebelumnya.
Sebagian besar sekolah yang mulai mempersiapkan untuk kegiatan tatap muka, terpaksa harus menunda kembali rencana tersebut. Maka mau tak mau, kegiatan belajar mengajar pun masih dilakukan secara online, termasuk Penilaian Tengah Semester (PTS).
Sebagai Emak yang memiliki anak usia sekolah, sebenarnya PTS ini juga merupakan ujian bagi Emak. Mentalitas dan profesionalitas seorang ibu benar-benar diuji.
Tak sedikit Emak-emak yang mengeluhkan keadaan ini. Bahkan baru-baru ini tersiar berita ada beberapa Emak yang tega menyakiti anaknya sendiri karena tidak mau belajar online. Astagfirullaah.. mudah-mudahan kita dijauhkan dari segala hal yang membawa kita menuju kesesatan.
Terlepas dari latar belakang kasus tersebut, saya melihat bahwa memang kegiatan belajar online ini sangat rentan dengan berbagai hambatan. Hambatan komunikasi sudah pasti, ketersediaan alat atau media apalagi. Bagaimanapun juga, efektivitas komunikasi melalui media tidak akan sebaik komunikasi langsung. Pun terkait dengan alat dan media, tak setiap anak bisa dengan mudah memiliki laptop, hp, dan kuota internet.
Selain itu, salah satu hambatan yang sangat mempengaruhi kegiatan belajar online adalah peran orangtua atau pihak lain yang menjadi fasilitator. Bagi anak sekolah setingkat SMP ke atas, mungkin sudah bisa melakukan kegiatan belajar online mandiri. Meskipun baiknya tetap harus ada pengawasan sari orangtua. Namun untuk anak usia SD apalagi anak usia dini, peran fasilitator ini sangatlah penting.
Mengapa fasilitator bisa menjadi salah satu hambatan? Karena bagi orangtua yang menyekolahkan anaknya, kegiatan ini menjadi sesuatu yang tidak biasa. Sebagian besar orangtua menganggap ini seperti memindahkan sekolah ke rumah. Sehingga mereka berpikir dan mengharapkan keadaan ideal seperti anak-anak belajar di sekolah. Padahal pada kenyataannya, mau seideal dan sehebat apapun orangtuanya, kegiatan belajar di rumah dan sekolah sudah pasti akan berbeda.
Maka dari itu, akan lebih baik untuk tidak menuntut anak belajar seperti di sekolah. Belajar lah di rumah dengan cara masing-masing yang bisa membuat anak dan orangtua nyaman dan bahagia. Karena kunci belajar itu adalah bahagia!
Komentar
Posting Komentar