Menyayangi Anak dengan Merdeka

Agustus merupakan salah satu bulan yang spesial dan penuh makna, karena pada bulan ini seluruh rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Sebagai salah satu cara untuk merayakan dan memaknai momen kemerdekaan, Komunitas Literasi Ibu Profesional (KLIP) mengadakan writing challenge atau tantangan menulis dengan tema 'Merdeka dalam Menyayangi anak'. Membaca tema tersebut, saya langsung bertanya-tanya pada diri sendiri,

"Sudahkah saya menyayangi anak-anak dengan merdeka?".

"Bagaimana kita bisa menyayangi anak-anak dengan merdeka?"

"Apa indikator atau ciri-ciri yang menunjukkan bahwasanya kita sudah merdeka dalam menyayangi anak-anak?"

Secara harfiah, merdeka itu artinya bebas atau berdiri sendiri. Namun tentu saja, kebebasan itu bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Sebagaimana tujuan penciptaan alam semesta, tujuan penciptaan manusia pun telah termaktub dalam kalam Illahi, yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk menjalankan perannya di muka bumi ini. Manusia diciptakan Allah SWT dengan kodrat dan perannya masing-masing, dan berhak untuk menjalankan perannya dengan merdeka, sesuai dengan tuntunan dari penciptaNya. Jadi, menurut saya, merdeka itu adalah saat kita bisa menjalankan peran sesuai tuntunan hidup dan tujuan penciptaan kita masing-masing.

Lalu, sudahkah kita merdeka dalam menyayangi anak-anak kita?

Setiap orang tua tentu memiliki versi ‘merdeka’ dalam menyayangi anaknya masing-masing. Bagi saya, orangtua yang merdeka dalam menyayangi anaknya adalah orangtua yang menyayangi anaknya bukan karena alasan lain selain karena anak itu adalah anaknya. Anak yang telah dianugerahkan kepadanya, dan telah diamanahkan serta dipercayakan kepadanya, sehingga ia mendapat peran sebagai orangtua.

Ketika hanya ada satu alasan, maka bagaimanapun kondisi anak-anaknya tidak akan mengurangi kasih sayang yang diberikan. Orangtua yang merdeka, akan tetap menyayangi anak-anaknya walaupun anaknya tak jadi juara kelas. Ia tetap menyayangi anaknya walaupun anaknya tak bisa menjadi dokter seperti harapannya dulu. Ia tetap menyayangi anaknya walaupun terkadang anaknya rewel, tantrum, dan, sulit diatur.

Ketika hanya ada satu alasan, maka ia akan menyayangi anak-anaknya sesuai dengan kebutuhan anak-anaknya. Ia menyekolahkan anaknya bukan karena ia ingin anaknya sukses, tapi karena ia sadar bahwa anaknya membutuhkan sekolah. Ia membelikan anaknya mainan dan pakaian bukan karena ingin dipuji tetangga, melainkan karena anaknya membutuhkan itu. Ia menahan diri untuk memarahi anaknya bukan karena menjaga image di depan orang lain, tapi karena ia tahu bahwa memarahi anak bukanlah cara yang benar.

Orangtua yang merdeka dalam menyayangi anaknya adalah orangtua yang menyadari bahwa setiap anak itu unik, tidak bisa disamakan, dan bukan untuk dibandingkan. Ia menyayangi anak-anaknya dengan caranya sendiri, cara yang menurut dia benar dan sesuai dengan apa yang diyakininya.


Komentar

Postingan Populer