Bersahabat Dengan Gadget

Istilah gadget atau gawai tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Era millenial saat ini menuntut kita untuk semakin melek teknologi, dan telepon genggam atau handphone adalah salah satu jenis gadget yang hampir sebagian besar dimiliki oleh setiap orang. Bukan hanya orang dewasa, bahkan anak-anak zaman milenial saat ini pun sudah begitu familiar dengan handphone. Apalagi dalam kondisi pandemi Covid 19 saat ini, dimana proses pembelajaran pun dilakukan secara online atau daring (dalam jaringan) yang berarti menggunakan media gadget (handphone dan laptop).

Seperti dua sisi mata uang, penggunaan gadget pun memiliki dua sisi yang berbeda. Satu sisi positif yang bisa memberikan manfaat, dan sisi lain yang bisa memberikan efek negatif jika digunakan dengan tidak sewajarnya. Tak heran, di zaman millenial ini, banyak sekali keluh kesah orang tua terhadap efek gadget bagi anak-anaknya.

Saya bukan pakar parenting yang memiliki banyak teori mengenai cara membatasi gadget pada anak, ataupun cara menghindari anak yang kecanduan game pada gadget. Saya juga bukan tipe orangtua yang anti memberikan gadget ataupun sebaliknya, membebaskan anak bergadget ria. Karena pada kenyataannya, perkembangan zaman saat ini memang mendorong kita semua untuk mengenal dan bersahabat dengan gadget. Namun demikian, bukan berarti orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak-anak untuk menggunakan gadget.

Prinsip saya adalah, karena gadget sudah menjadi salah satu kebutuhan, maka yang harus saya bangun adalah bagaimana agar anak-anak bisa bersahabat dengan gadget. Bersahabat disini berarti gadget bisa digunakan sesuai kebutuhan, tapi tidak menjadi candu. Dengan demikian, hal yang harus kita bangun saat kita akan memberikan gadget pada anak adalah, anak mengetahui apa tujuan dia menggunakan gadget. Apakah bermain game? Nonton? Atau yang lainnya?. Jika anak sudah mengerti tujuannya, maka anak boleh menggunakan gadget dengan tetap dalam pendampingan orangtuanya.

Lalu apakah semua anak-anak bisa mengerti tujuan dari apa yang dia lakukan? Tentu ada tahapannya. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua harus menimbang-nimbang kapan anak kita siap menggunakan gadget. Karena masing-masing anak itu unik, maka tidak semua anak bisa siap pada usia yang sama. Begitupun dengan "kepemilikan" gadget. Setiap orangtua berhak menentukan kapan anak memiliki gadget sendiri. Anak saya yang saat ini berusia 10 tahun sudah mulai bertanya "Ma, kapan aku punya HP sendiri?". Saya jawab, "Nanti ya A, kalau Aa sudah baligh dan sudah siap". "Ko temen sekelasku udah punya HP sendiri?", tanyanya lagi. Maka naluri saya sebagai perempuan yang harus mengeluarkan lebih dari 20 ribu kata per hari pun muncul.. "Nak, temen Aa itu bukan anak mama. Kita berbeda keluarga, berbeda pula prinsipnya. Mama akan mengizinkan Aa punya HP sendiri saat Aa sudah siap. Mama lakukan ini karena Mama sayang sama Aa. Apa yang kita inginkan, belum tentu sama dengan apa yang kita butuhkan. Bersabar ya A.. Mama aja dulu punya HP sendiri pas kelas 2 SMA.hehe..". Alhamdulillaah, setelah dijelaskan panjang kali lebar, ia pun mengerti. Lalu apakah setelah itu ia berhenti bertanya? Oo.. tentu tidak. Sebagai anak pada umumnya, tentu saja ia menanyakannya kembali di waktu-waktu selanjutnya. Dan jawabannya masih tetap sama.

Lalu bagaimana anak bisa tahu tujuan mereka menggunakan gadget? Disanalah peran kita sebagai orangtua untuk mengenalkan fungsi dari fitur-fitur yang ada pada gadget. Disanalah sebenarnya peran gadget bisa berfungsi sebagai media belajar. Secara alamiah, sebenarnya anak-anak memiliki kemampuan untuk mencoba-coba sesuatu. Tak heran jika anak-anak begitu cepat menguasai cara mengoperasikan fitur dan aplikasi pada gadget. Dan di era saat ini dan selanjutnya, kemampuan ini akan menjadi salah satu modal besar bagi anak-anak.

Pada anak-anak pra sekolah, bisa jadi penggunaan gadget masih terbatas pada fitur video dan game sederhana. Namun bagi anak-anak usia sekolah dan menginjak remaja, banyak sekali fitur pada gadget yang sangat bisa dijadikan media pembelajaran. Disanalah peran kita sebagai orangtua sangat diperlukan, karena seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, anak-anak sangat senang sekali "mencoba" sesuatu.

Sebagai contoh kecil, anak-anak saya masing-masing berusia 7 dan 10 tahun. Awalnya mereka hanya menggunakan hp untuk menonton video dan bermain game di waktu-waktu yang telah disepakati. Pada suatu waktu, saya menginstal aplikasi untuk mengedit foto dan video. Awalnya saya tak mengenalkan mereka pada aplikasi tersebut, hanya saja ketika saya sedang mengedit, mereka sering menyimak dan kadang menanyakan beberapa hal tentang aplikasi yang sedang saya gunakan. Tak lama, mereka tertarik untuk mencoba mengedit foto dan video. Saya pun mempersilakannya karena saya pikir mereka hanya penasaran. Tak disangka, ternyata dengan mengutak-atik sendiri, mereka berhasil mengedit dan membuat karya foto dan video mereka sendiri. Dari sana, saya semakin yakin bahwa anak-anak memang pembelajar sejati yang luar biasa!

Tak berhenti sampai disana, setelah belajar mengedit dan membuat video sendiri, mereka terinspirasi untuk membuat channel youtube sendiri. Maka semangatlah mereka untuk melakukan syuting sampai mengedit videonya sendiri. Melihat mereka seperti itu, sempat ada kekhawatiran mereka malah ingin menjadi youtuber. Namun ternyata, dengan merasakan sendiri bagaimana prosesnya, mereka akhirnya bosan juga dan menyerah saat menyadari sulitnya mendapatkan subscriber.hehe..

Akhirnya demam menjadi youtuber pun mereda dengan sendirinya. Setelah itu, ternyata mereka menemukan aplikasi lain yang menarik. Apalagi kalau bukan aplikasi tiktok. Ketika mereka meminta untuk mendownload aplikasinya, saya sempat ragu. Saya bisa saja melarang, tapi jika mereka belum mencoba, pasti mereka akan tetap penasaran. Oleh karena itu, akhirnya saya membolehkan, dan benar saja.. setelah dicoba, mereka menemukan "mainan" dan "kesenangan" baru. Jika tak ingat umur dan tidak malu, saya pun sebenarnya sangat tertarik dengan aplikasi tersebut. Wkwkwk..

Maka demam youtuber pun kini berganti demam tiktok. Setelah beberapa waktu berlalu, mereka mencoba dan merasakan sendiri kegunaan aplikasi tersebut, saya pun lalu mengajak mereka berpikir manfaat dari aplikasi tersebut. Setelah percakapan yang entah keberapa kalinya, akhirnya mereka berdua sepakat untuk berhenti bermain tiktok dan menghapus aplikasinya. Alhamdulillaah.. mereka yang mendownload, mereka sendiri yang menghapusnya lagi dengan sukarela. Yang terpenting, mereka sudah mendapatkan pengalaman dari sana.

Komentar

Postingan Populer