Deskripsi Diri - Perfeksionis?
Sejak dulu sampai saat ini, saya selalu percaya bahwa manusia diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Nabi Muhammad SAW lah manusia paling sempurna yang pernah hadir di muka bumi ini.
Sebagai manusia, tentu kita ingin selalu melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Baik menurut Allah SWT, baik menurut diri sendiri, dan juga baik di mata orang lain. Respon dan standar dari diri kita sendiri lah yang akan menentukan apakah kita termasuk orang yang perfeksionis atau tidak.
Secara istilah, perfeksionis adalah orang yang memiliki pandangan perfeksionisme. Perfeksionisme adalah keyakinan bahwa seseorang harus menjadi sempurna untuk mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non-materi.
Ada beberapa sifat dan kebiasaan saya yang membuat saya merasa menjadi seorang yang perfeksionis, walaupun terkadang kadang kadarnya tergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi. Sifat-sifat tersebut antara lain:
1. Selalu berusaha melakukan yang terbaik dan berharap orang lain melakukan kerja keras yang sama. Untuk menghindari sebuah kegagalan, rela menetapkan standar yang begitu tinggi dan berjuang mati-matian untuk memenuhi standar tersebut.
2. Untuk hal-hal tertentu, saya jarang mendelegasikan pekerjaan pada orang lain, karena rasanya tidak mudah percaya pada orang lain. Saya lebih tenang jika bisa mengerjakan sebuah pekerjaan dengan tangan sendiri, agar sesuai dengan standar dan keinginan. Apalagi jika sudah diberikan tugas atau tanggung jawab tertentu.
3. Selalu mengulang-ulang hal tertentu hingga mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Ketika mengerjakan sebuah tugas, perlu pemeriksaan berkali-kali untuk meyakinkan diri bahwa tugas tersebut telah dikerjakan dengan baik dan tepat.
4. Sering merasa insecure, terutama soal rasa percaya diri. Saya baru bisa benar-benar merasa percaya diri jika ada orang yang menghargai atau mengakui prestasi dan pencapaian saya. Jika tidak, saya akan merasa seperti orang yang gagal atau tidak berguna.
5. Sering merasa terganggu dengan sebuah kesalahan kecil atau jika hasil yang didapat ternyata melenceng sedikit dari yang diharapkan. Alih-alih fokus dan lega dengan sesuatu yang berhasil saya kerjakan, saya malah stres dengan satu kesalahan kecil yang sebenarnya sepele.
6. Sering melewatkan sebuah kesempatan atau peluang karena merasa nggak mampu melakukannya. Jika sedari awal saya sudah merasa tidak yakin bisa melakukan sesuatu dengan baik, saya cenderung menutup diri dan menghindari untuk melakukan hal tersebut.
Sifat-sifat tersebut tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Ibarat dua sisi mata uang, perfeksionis sebenarnya bisa menjadi positif, bisa juga menjadi negatif bagi pelakonnya. Selalu ingin melakukan yang terbaik tentu sangat penting dan baik untuk memotivasi diri. Akan tetapi, kita juga harus memperhatikan kemampuan diri, dan tetap berorientasi pada proses, bukan hanya mengutamakan hasil.
Jadi intinya, menurut saya, menjadi perfeksionis itu boleh, asal tetap realistis dan dinamis. Inilah poin yang masih harus terus saya pelajari : mengelola perfeksionisme yang ada pada diri saya agar menjadi hal yang positif dan bermanfaat. Semangat! 🥰
Komentar
Posting Komentar