Draft Naskah Sebelum Masuk Meja Editor (bagian 1)

ANAKMU CERMIN DIRIMU

Oleh : Jayabayalah Matahari Kecilku

Anak laki-laki berusia lima tahun itu hanya terdiam dan berdiri mematung di hadapanku. Matanya lekat memandangi aku --Ibunya-- yang tengah meluapkan kemarahan kepadanya. Beberapa menit yang lalu, anak itu masih anteng di depan layar ponsel untuk bermain game, sementara aku fokus di depan laptop untuk mengerjakan tugas kantor yang belum selesai. Lima belas menit berlalu, ia sepertinya mulai bosan memainkan game nya, lantas menghampiriku dan merengek minta dibuatkan susu. “Sebentar, Nak”, ucapku singkat. Ia terus merengek tak sabar saat aku meminta sedikit waktu lagi untuk menyelesaikan pekerjaan, dan ia mulai melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya. Ia pun lalu beringsut menuju laptop di depanku, dan menekan keyboard secara acak.

Aliran darahku langsung naik seketika. Pekerjaan kantor yang belum selesai, ditambah tingkahnya yang tidak sesuai harapan membuatku kehilangan kendali. “Kamu apa-apaan sih?! Kalau Ibu bilang tunggu ya tunggu! Kalau kamu seperti itu, pekerjaan Ibu tidak akan selesai-selesai! Lagipula kan baru tadi kamu minum susu, kok sudah minta lagi”, ucapku dengan ekspresi kemarahan yang begitu kentara.

Potret kemarahan seperti itu bukan satu atau dua kali saja terjadi dalam keseharianku bersama anak. Pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, tugas kantor yang cukup menyita perhatian, dan manajemen waktu yang buruk membuat aku kewalahan. Akumulasi dari semua itu membuatku lalai sebagai seorang Ibu. Aku bukannya tak tahu bahwa satu bentakan saja bisa membuat sel otak anak rusak. Aku juga bukan tak tahu bagaimana adab ketika marah, atau pun adab dalam memperlakukan anak sebagai amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aku tahu, tetapi belum mampu menjadi pemandu bagi nafsuku. Kalimat istighfar berulang kali aku ucapkan, tetapi tidak disertai kekhusyuan. Astaghfirullah..

Sampai suatu ketika, aku sedang memasak di dapur saat anakku memanggil-manggil namaku. “Iya, sebentaaar..”, jawabku singkat seraya memintanya untuk menunggu. Rupanya anakku sudah tidak sabar menunggu. Setelah tiga kali memanggil  tanpa hasil, ia pun bergerak menuju dapur dengan langkah tegas. Beberapa waktu kemudian, ia sudah berdiri tegak di hadapanku. “Ibu kenapa sih?! Aku kan manggil-manggil dari tadi, kok enggak nyamperin aku?!”, ujarnya dengan nada kesal. “Ibu kan lagi masak, Nak.. kalau kamu ada perlu kan bisa kamu yang kesini”, jawabku mencoba menenangkannya. “Kan kata Ibu juga kalau ada yang manggil kita harus samperin. Kalau ibu manggil aku, Ibu suka marah kan kalau aku enggak cepet nyamperin! Sekarang aku yang manggil Ibu, jadi aku maunya Ibu yang nyamperin aku!”.

Deg. Aku terhenyak melihat reaksinya seperti itu. Dulu saat kemampuan bahasanya masih terbatas, ia hanya bisa meluapkan emosinya melalui tangisan atau gerakan fisik. Kini, anak laki-laki itu telah berusia enam tahun. Kosakatanya sudah semakin banyak dan kemampuan bahasanya semakin berkembang, sehingga mulai mampu meluapkan emosi melalui kata-kata. Aku takjub mendengar ia berbahasa saat mengungkapkan isi hatinya, namun aku sedih melihat bagaimana ekspresi dan intonasinya ketika berbicara kepadaku.

Aku seperti melihat diriku sendiri. Marahnya seperti marahku, dan ekspresinya mirip sekali dengan ekspresiku ketika memarahinya, padahal aku tak pernah mengajarkan cara marah yang seperti itu. Sebagai seorang Ibu, tentu aku selalu mengajarkan adab-adab yang baik menurut islam. Aku sampaikan kisah-kisah moral yang mengajarkan akhlakul karimah, dan aku sekolahkan ia di sebuah sekolah anak usia dini yang aku yakini mengajarkan adab-adab seorang muslim.

Pada kenyataannya, semua yang aku ajarkan kalah dengan apa yang ia lihat dariku. Aku lupa bahwa anak ibarat mesin fotocopy, dan anak seusianya memiliki kemampuan meniru yang luar biasa. Lalu siapa yang akan ia tiru? Tentu saja semua yang berada di lingkungan sekitar anak, terutama Ayah dan Ibu nya. Selama ini aku merasa sudah memberikan pengajaran tentang adab, tetapi terkadang aku masih melakukan hal yang tidak beradab kepadanya. Aku menuntut dia untuk bersikap sopan padaku, tetapi terkadang aku masih merasa superior dan bersikap seenaknya di hadapannya. Aku ingin anak-anakku soleh, tapi aku sendiri tidak berusaha menyolehkan diri. Itulah kesalahan yang aku lakukan selama ini.

Qadarullah, aku seperti mendapat kode dari-Nya. Ia Yang Maha Mengetahui paham betul bahwa aku ingin memperbaiki diri, tetapi tidak memiliki cukup ilmu dan waktu untuk melakukannya. Maka atas izin-Nya, pada pertengahan tahun 2019 aku mengalami ujian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Setelah kurang lebih dua bulan menjadi murid di salah satu Sekolah Dasar Islam, anakku tiba-tiba tidak mau sekolah lagi. Berbagai cara telah aku lakukan dengan melibatkan banyak pihak, seperti keluarga, guru dan teman-teman sekelasnya. Rekan kerja di kantor pun turut mendukungku dengan memberikan cuti sementara agar aku bisa fokus menyelesaikan masalah ini. Namun, terkadang kenyataan memang tidak sesuai dengan harapan, karena apa yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah kesana kemari mencari jawaban dan jalan keluar dari ujian ini, akhirnya aku dan suamiku dipertemukan dengan sebuah metode belajar bernama homeschooling.


Awalnya, aku menganggap homeschooling sebagai sebuah beban baru yang tidak masuk akal. Aku sempat menolak untuk mencobanya. Untungnya, suamiku begitu sabar dalam memberikan pengertian dan pemahaman kepadaku. Dia mengajakku untuk mencari tahu lebih dalam mengenai homeschooling dan terus menyemangatiku. Hingga akhirnya, dengan penuh kesadaran dan tanpa tekanan, aku memutuskan untuk mencoba homeschooling dan resign dari tempatku bekerja.

(bersambung)

Komentar

Postingan Populer