Hikmah

Setiap kejadian yang menimpa pada diri kita pastilah mengandung hikmah, sebagaimana Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Tak ada yang sia-sia dari semua ciptaanNya dan tak ada yang luput dari kekuasaanNya, termasuk hal-hal kecil yang terjadi pada diri kita.

Saya ingin menuliskan beberapa hal yang sempat membuat saya merenung dan bermuhasabah hingga akhirnya saya mengerti dan mengambil hikmah dari kejadian-kejadian tersebut. Setiap manusia yang Allah ciptakan telah memiliki Qada dan Qadar nya masing-masing. Terlepas ketetapan itu baik atau buruk di mata manusia, namun yang perlu kita yakini adalah bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah bagi makhlukNya.

Dalam hidup ini, tidak semua yang kita inginkan bisa kita lakukan ataupun kita dapatkan. Kadang kenyataan tak sesuai dengan harapan. Maka sebagai manusia yang diciptakan dengan berbagai bentuk emosi dan perasaan, kita akan selalu dihadapkan pada keadaan diri dan hati yang berubah-ubah. Kadang bahagia, kadang sedih. Kadang kufur, kadang bersyukur. Ada kalanya kita sakit, dan ada kalanya pula kita jatuh saat kita berada di puncak kesuksesan. Kadang kita bertanya-tanya, "mengapa hal ini terjadi pada saya?". Saat-saat yang penuh tanda tanya itulah sebenarnya yang bisa menjadi salah satu jalan bagi kita untuk introspeksi dan bermuhasabah diri.

Begitupun yang terjadi dengan saya. Saat ini saya sedang berproses untuk menggali hikmah di balik setiap kejadian. Saya tidak mau tetap seperti saya yang dulu, yang hanya menghadapi dan menjalani setiap kejadian, lalu setelah itu menganggapnya sebagai angin lalu tanpa mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Padahal sebenarnya, ada banyak hikmah yang bisa saya ambil agar saya bisa lebih bersyukur dan bisa lebih menikmati hidup.

Kejadian di akhir tahun kemarin, misalnya. Saat tiba-tiba anak kedua saya mogok sekolah, hingga akhirnya saya pun resign dari tempat kerja di ranah publik dan memutuskan untuk menjalankan homeschooling. Kejadian itu terjadi begitu cepat dan tanpa bisa diduga sebelumnya. Saya yang sedang semangat-semangatnya menjadi guru dan humas di sebuah sekolah, tiba-tiba harus resign karena tidak memungkinkan lagi untuk fokus di luar rumah sementara keadaan domestik ada yang perlu dibenahi.

Perasaan saya saat itu bila diibaratkan mungkin seperti es campur dalam sebuah gelas kaca. Campur aduk. Ada alpukat, kolang-kaling, kelapa, sekoteng, dan lain sebagainya. Tapi setelah dicicipi, ternyata rasanya nikmat. Maka saya pun mencoba menerima dan menjalani prosesnya, serta berdamai dengan diri saya sendiri. Hingga akhirnya, saya mendapatkan banyak hikmah dari kejadian tersebut.

Jika anak kedua saya tidak mogok sekolah, mungkin saya tidak akan menyadari bahwa saya belum memiliki cukup ilmu untuk mendidik kedua anak lelaki saya. Ketika mereka berada di fase anak usia dini, saya masih terbantu dengan pengetahuan yang saya dapatkan di sekolah karena memang saya mengajar anak usia dini. Tapi kini kedua anak saya mulai menginjak fase kedua, dimana mereka mulai memasuki fase pra aqil baligh I (7-10 tahun). Dan saya belum mempersiapkan diri untuk itu. Maka, mungkin inilah jalan terbaik yang Allah tunjukkan, sehingga saya memiliki kesempatan untuk fokus kepada dua amanah utama yang telah Allah percayakan.

Maka setelah resign, saya pun mencari-cari informasi mengenai homeschooling dan bergabung dengan beberapa komunitas yang bisa membuat saya tetap produktif. Begitulah pula cara Allah untuk membuat saya semakin membuka diri dan menggali potensi yang sebenarnya belum saya yakini sampai saat ini 😂.

Begitulah hidup. Apa yang kita dapatkan belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi itulah sebenarnya yang kita butuhkan. Termasuk dalam hubungan pernikahan. Kita dengan sangat mudah bisa menemukan kekurangan pasangan kita, karena biasanya kekurangan mereka adalah apa yang tidak kita harapkan dari mereka. Padahal, bisa jadi kekurangan pasangan kita adalah sesuatu yang kita butuhkan sebagai penyeimbang dan penutup dari kekurangan kita sendiri.

Saya contohnya. Suami saya termasuk orang yang hemat dan efisien, jauh dari kata royal. Saya kadang ngedumel sendiri saat proposal pengajuan belanja saya tidak di-acc semua 😂. Padahal saya tahu uangnya ada. Rayuan macam bagaimanapun akan sulit menggoyahkan keteguhan hatinya untuk menggelontorkan dana bagi hal-hal yang menurut dia belum perlu. Walaupun kadang kesel, tapi sebenarnya saya mengerti bahwa apa yang beliau lakukan memang benar 🙈. Jika beliau royal dan dengan mudahnya mengiyakan segala kemauan saya, mungkin sifat boros saya akan semakin tumbuh subur dan mengakar 😚. Maka Allah pilihkan seorang suami yang bisa menjadi "rem" bagi saya.

Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap keadaan maupun kejadian dalam hidup kita. Hikmah itu akan bisa kita dapatkan, jika kita selalu berpikir positif kepada takdir Allah SWT. Karena sebagaimana firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Semoga dengan mengambil hikmah dari setiap kejadian, kita menjadi orang yang bisa selalu bersyukur, bermuhasabah diri, dan bisa mendapatkan pelajaran berharga yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Komentar

Postingan Populer