Fitrah Based Education

Selasa pagi kemarin, Alhamdulillaah Allah takdirkan saya untuk mengikuti kajian dhuha dengan tema parenting 'Fitrah Based Education' (FBE) bersama ustadz Harry Santosa. Beliau adalah seorang praktisi pendidikan anak dengan metode fitrah based education sekaligus sebagai founder Millenial Learning  Center dan komunitas HEbAT (Home Education Based on Akhlak and Tallent).

Sebenarnya sudah agak lama saya mengenal dan mendengar sekelumit informasi mengenai FBEnya Ustadz Harry, namun baru kali ini saya mendengarkan langsung pemaparan dari beliau mengenai konsep FBE ini. Masya Allah, mendengarkan penuturan beliau yang santai namun berbobot ini membuat saya semakin merenungi apa yang sudah saya lakukan selama ini kepada kedua buah hati saya. Betapa diri ini masih harus banyak belajar dan terus mengupgrade diri.

Dalam laman ini, saya akan menuliskan kembali apa yang saya dapatkan dari kajian kemarin. Saya akan tuliskan sesuai dengan apa yang saya tangkap, sehingga mohon maaf jika apa yang saya tuliskan nanti tidak utuh dan lengkap. 

-Fitrah Based Education-

Seorang anak terlahir dengan potensi besar berupa fitrah dan takdir peran yang telah Allah tetapkan, dan dalam FBE ini kita diajak untuk menumbuhkan fitrah berupa benih-benih kebaikan yang ada pada diri anak-anak kita. 

Di awal pemaparan materinya, ustadz Harry membahas beberapa kasus penyimpangan pada perkembangan anak maupun remaja. Beliau mengajukan pertanyaan, "apakah yang terjadi pada mereka ini akibat mereka salah gaul?". No, jawabannya bukan. Anak-anak yang menyimpang dari fitrahnya bukan akibat salah gaul, melainkan akibat salah asuh. Anak-anak yang diasuh dengan benar akan selesai dengan dirinya sehingga mereka akan memiliki imunitas pada lingkungannya.

Sejak lahir, anak memiliki fitrah kebaikan-kebaikan pada diri mereka. Tugas kitalah sebagai orangtuanya untuk menumbuhkan semua fitrah tersebut. Semua fitrah harus tumbuh bersama, karena jika ada yang kurang, maka itulah biasanya yang menjadi akar permasalahan pada anak. Sehingga muncullah istilah nakal untuk anak yang dianggap bermasalah. Padahal, tidak ada anak yang terlahir nakal ataupun ingin menjadi nakal.

Lalu bagaimana menumbuhkan fitrah anak?.

Sebagaimana proses pertumbuhan anak sejak dalam kandungan hingga akhirnya mereka lahir dan berkembang, proses menumbuhkan fitrah pun ada tahapannya, yaitu:
 
Usia 0-6 tahun > Orangtua harus menumbuhkan kecintaan anak. Ajak anak jatuh cinta pada Allah, Rasulullah, orang tuanya, dan hal positif lainnya. Pada usia ini, anak berada pada puncak imajinasi, pusat perasaan bukan kepintaran. Jadi bangun cintanya dengan imaji positif.

Usia 7-10 tahun > Orangtua mulai mencontohkan atau mengadabkan berbagai sikap positif pada anak. Cobalah berbagai macam aktivitas yang relevan dengan sifat anak sehingga tumbuh penyadaran potensi. 

Usia 11-14 tahun > Anak mulai diajarkan untuk mengaplikasikan berbagai keterampilan hidup. 

Usia >15 tahun > Biarkan anak mandiri, biarkan mereka tumbuh di tanah seperti pohon, karena mereka sudah bukan tunas lagi.


Dalam proses pengasuhan, Ayah dan Ibu sama-sama memiliki peran penting, sehingga keduanya harus hadir dalam pengasuhan anak. 

Anak laki-laki : 75% peran ayah, 25% peran ibu.
Anak perempuan : 75% peran ibu, 25% peran ayah.

Jika diibaratkan, ayah adalah penempa, sementara ibu adalah pembasuh.

Kita sebagai orangtua, tentu tak akan bisa selamanya ada di sisi anak. Maka, pastikan kita membekali anak-anak kita dengan 3 hal:
1. Aqidah yang kuat
2. Fitrah yang tumbuh dengan sempurna
3. Kenangan-kenangan indah bersama orangtuanya.

Ayah dan Ibu harus bekerjasama dengan baik dalam menumbuhkan fitrah anak. Salah satu syaratnya, Ibu jangan lebay dan Ayah jangan lalai, agar anaknya tidak menjadi alay. Salah satu hal yang tak kalah penting adalah temukan misi keluarga masing-masing, agar Ayah dan Ibu koheren atau sejalan dalam mengasuh anak-anak dan memiliki tujuan yang pasti dalam hidup sehingga ayah dan ibu tau akan diarahkan kemana anak-anak mereka.

Orangtua pun harus sadar bahwa setiap anak itu unik. Mereka memiliki sifat, karakter, dan bakatnya masing-masing. Tugas orangtualah untuk membimbing bakat mereka sehingga mereka bisa tumbuh menjadi diri mereka sendiri dan mengambil peran mereka di muka bumi ini. Jangan bersedih dan khawatir jika mereka tidak seperti anak lainnya, karena mereka memang berbeda dan tidak bisa disamakan. Rasulullah pun tidak pernah menuntut Umar bin Khattab agar bisa seperti Abu Bakar Ash Siddiq, ataupun sebaliknya. Tapi keduanya bisa menjalankan peran mereka dengan karakter, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing.

Kita tak perlu khawatir akan menjadi apa anak-anak kita, asalkan kita menumbuhkan dan mengembangkan fitrah mereka sesuai dengan ajaran Allah SWT. Jangan pernah khawatir dengan rizki, karena rizki akan mengikuti sebuah fitrah. Jika benihnya benar, maka skalanya akan besar dan baik. Tapi jika benihnya buruk, meskipun skalanya besar tapi akan membusuk. 

---

Setelah memaparkan materi, ustadz Harry menjawab beberapa pertanyaan yang sudah dikumpulkan dari para jamaah. Beberapa pembahasan dari pertanyaan-pertanyaan itu antara lain:

Bagaimana cara memahami istri yang sulit untuk dipahami?
Ustadz Harry memaparkan beberapa bahasa cinta yang biasanya dimiliki oleh perempuan, diantaranya:
1. Dipuji
2. Diberi hadiah
3. Disentuh/dibelai
4. Dibersamai
5. Dilayani
Setiap perempuan biasanya memiliki 2 bahasa cinta yang bisa membuat rasa cintanya semakin meningkat. Temukan bahasa cinta itu, dan lakukan agar kehidupan pernikahan semakin bahagia.

Apakah seorang ibu sebaiknya tidak berkarir agar bisa mengasuh anak dengan baik?
Sebenarnya masalahnya bukan pada berkarir atau tidak, tapi hadir atau tidaknya disamping anak. Kalaupun ibu berkarir, asalkan mereka masih memiliki waktu yang cukup untuk membersamai anaknya maka itu masih lebih baik daripada ibu yang full di rumah tapi sibuk pada urusannya sendiri dan mengabaikan anak.

Jadi apa yang harus orangtua lakukan ketika mendapati anaknya bermasalah?
Tentu saja orangtua harus mencari solusi dari masalah tersebut. Caranya, kita perlu menggali dulu akar permasalahannya. Semakin dalam menggali, maka akan semakin tajam solusinya. Namun jika sedikit yang digali, maka kemungkinan akan semakin melebar masalahnya. Satu hal yang harus kita yakini, bahwa setiap masalah akan selalu ada solusinya selama kita percaya, berada di jalan yang benar, dan melakukan cara yang benar. Kita memiliki Allah SWT yang Maha Mengetahui Segala Urusan.

--

Demikianlah beberapa catatan yang bisa saya peroleh dari kajian bersama ustadz Harry kemarin. Dan ternyata, saya semakin penasaran dengan konsep FBE ini. Semoga saya bisa membeli bukunya dan mendapatkan kesempatan untuk belajar lagi bersama ustadz Harry 😁.

Terima kasih kepada ustadz Harry yang telah berkenan berbagi ilmunya, dan juga kepada tim Muraabith yang telah mengundang beliau di kajian parenting kemarin. Semoga ilmunya berkah, dan bisa diaplikasikan dengan benar sehingga saya bisa menjadi orangtua yang lebih baik dan bisa menumbuhkan fitrah anak-anak dengan sempurna. Semoga apa yang saya tuliskan ini pun bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Barokallohufiikum 💕

Komentar

Postingan Populer