Cara Islam Mendidik Anak di Zaman Milenial

Akhir-akhir ini, saya sedang semangat-semangatnya menghadiri kajian, seminar, ataupun workshop yang bertema parenting. Sebenarnya sejak dulu pun saya selalu tertarik untuk mengikuti berbagai seminar, hanya saja tidak sesemangat saat ini. Selain rutinitas di luar rumah yang sekarang sudah berkurang, faktor kebutuhan lah sepertinya yang membuat saya semakin sadar dan merasa perlu untuk terus menggali ilmu tentang parenting.

Meskipun pada kenyataannya saya belum mampu mengaplikasikan semua ilmu yang saya dapatkan, namun setidaknya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut saya mendapatkan banyak pengetahuan dan penguatan yang sedikit banyak berpengaruh pada sudut pandang saya dalam proses pengasuhan anak. 

Setelah beberapa hari kemarin saya belajar dari ustadz Harry Santosa, hari ini alhamdulillaah saya belajar dari Ayah Irwan Rinaldi. Beliau adalah seorang trainer parenting yang fokus pada peran keayahan. Berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, hari ini saya begitu bahagia dan sangat bersyukur karena qadarullah partner hidup saya alias Ayahnya anak-anak bisa ikut hadir bersama-sama. Semoga dengan hadirnya beliau di seminar ini bisa meningkatkan kerjasama dan kekompakkan kami dalam mengasuh anak-anak.

Seperti biasa, untuk menebalkan myelin dan mentransfer ilmu agar kelak bisa saya baca kembali dan bermanfaat bagi pembaca lainnya, saya akan menuliskan kembali beberapa materi yang disampaikan oleh Ayah irwan.

---

-Cara Islam Mendidik Anak di Zaman Milenial-

Di dunia parenting, sebenarnya tidak ada istilah pakar parenting, karena sejatinya setiap orangtua adalah pakar untuk anaknya masing-masing. Maka, jika orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi yang terbaik, maka pengasuhan terbaik pula lah yang perlu orangtua berikan. Salah satu syaratnya adalah memiliki tujuan yang jelas dalam rumah tangga. Setelah ada tujuan, maka kita akan bisa menyusun roadmap atau peta pengasuhan bagi anak-anak kita.

Pada hakikatnya, seluruh konsep pengasuhan dan pendidikan terbaik dalam islam telah tertuang dalam kitab suci Al-Quran. Perjalanan hidup Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik bagi semua umat manusia, dan dalam proses pengasuhan Allah SWT telah memberikan dua figur keluarga yang bisa menjadi patokan untuk mendidik anak-anak kita. Ketika kita mendidik anak laki-laki, kita bisa belajar dari keluarga Nabi Ibrahim. Sementara untuk anak perempuan, kita bisa bercermin dari keluarga Imran.

Selain itu, kita perlu menerapkan kurikulum yang sesuai dengan fitrah mereka. Seorang anak laki-laki hendaknya ditempa dengan kurikulum Qowwam, karena kelak mereka akan menjadi pemimpin bagi keluarganya. Untuk anak perempuan, kita didik mereka dengan kurikulum keperempuanan yang bisa  membuat mereka menjadi seperti 4 tokoh perempuan terhebat sepanjang zaman. Mereka adalah:
1. Maryam binti Imran
2. Fathimah binti Muhammad
3. Khadijah
4. Asiah istri Fir'aun
Keempat perempuan ini merupakan sosok yang bisa menjadi cerminan bagi para perempuan untuk memaksimalkan perannya bagi lingkungan sekitar, terutama sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Dalam proses pengasuhan anak, ada 3 bagian utama yang harus diperhatikan oleh orangtua agar anak bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ketiga poin itu adalah:
1. Pendengaran
2. Penglihatan
3. Hati

Sebagai orangtua pun kita harus memperhatikan tahapan perkembangan usia mereka:

# 0 -7/8 tahun : Tahapan usia ini merupakan masa-masa golden moment dimana anak akan dengan mudahnya menerima berbagai stimulus. Pada usia ini, baik anak laki-laki maupun perempuan sama-sama memerlukan sosok ibunya.

# 7/8 - 14/15 tahun : Masa-masa ini bisa dibilang masa kritis, dimana anak-anak akan sangat membutuhkan ayah dan ibu yang saling mendukung. Di usia ini, anak laki-laki akan lebih membutuhkan sosok Ayah untuk mengajarkan tentang kelaki-lakian.

# > 15 tahun : Pada usia ini, biasanya anak-anak memerlukan orang lain atau mentor yang bisa ikut membimbing mereka dalam mengaplikasikan berbagai keterampilan hidup. 

Di zaman milenial yang serba digital saat ini, kita banyak melihat fakta gagalnya sistem pendidikan. Hal ini terlihat dari fenomena anak-anak yang usia biologisnya lebih maju dari usia psikologis. Sangat sering kita temukan seorang anak yang usianya sudah 15 tahun misalnya, namun sikap dan kemampuannya seperti anak usia 9 tahun.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua?
1. Periksa prinsip pengasuhan
Anak adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Sebagai amanah, ada 2 poin yang harus orangtua perhatikan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagian besar orangtua cenderung fokus ke pertumbuhan anak dan lalai memperhatikan perkembangannya.

2. Periksa diri orangtua
Pola asuh kita saat ini biasanya berhubungan dengan hutang pengasuhan di masa lalu. Maka jika kita merasa memiliki hutang pengasuhan di masa lalu, segeralah perbaiki dan lunasi agar anak-anak bisa mengcopy paste hal-hal yang positif dari orangtuanya.

3. Periksa pemahaman terhadap anak
Ayat Quran yang menjelaskan tentang ini ada di Q.S. An-Nahl ayat 78, Q.S Ash-Shaffat ayat 102, dan Q.S. Luqman ayat 13-19.

Kesimpulannya, jika kita ingin memiliki anak-anak yang high quality, maka kita pun harus berusaha menjadi high quality parents. Dan untuk menjadi high quality parents, ada 2 poin yang harus kita miliki, yaitu ilmu dan waktu.

---

Itulah hasil belajar saya hari ini. Wallohu alam bisshawwab. Semoga bermanfaat 💕

Komentar

Postingan Populer