1. Flashback
Tahun 2020 dimulai. Biasanya, tak ada yang ada yang spesial dalam setiap pergantian tahun masehi. Saya melewatinya dengan biasa-biasa saja, tanpa ada target, evaluasi, apalagi resolusi. Sejak dulu, saya memang bukan orang yang rajin dan cerdas dalam me-manage diri 😬. Apa yang sudah terjadi ya sudah, dan apa yang akan terjadi di depan mari kita hadapi. Kurang lebih seperti itulah kualitas kehidupan saya saat itu, mengikuti suratan takdir yang telah Allah SWT gariskan tanpa ada perencanaan atau resolusi apapun.
Selepas lulus D3 ilmu komunikasi, saya menikah dan melanjutkan kuliah S1 di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Meskipun saya hamil dan melahirkan saat kuliah tingkat akhir, Alhamdulillaah saya bisa lulus dan wisuda tepat waktu.
Masa-masa kuliah dengan perut membesar dan menyusun skripsi sambil menggendong bayi yang masih berusia 1 bulan berhasil dilalui tanpa masalah. Suami dan keluarga yang mendukung, teman-teman yang luar biasa, serta para dosen yang baik hatinya membuat semuanya terasa begitu mudah. 🤗😘 Namun, masa-masa setelah lulus itulah yang menjadi ujian yang cukup berat dalam hidup saya 😱.
Seorang sarjana ilmu komunikasi, fresh graduate dengan IPK Cum Laude dari sebuah PTN Negeri ternama di Indonesia. Anak tunggal dari Ayah yang seorang guru dan Ibu seorang PNS. Sudah menikah dan memiliki 1 orang anak. Tinggal di rumah mengurus anak dan suami. 😶
Andai saja saat itu semua orang sudah mengerti bahwa menjadi seorang Ibu Rumah Tangga adalah pekerjaan mulia, mungkin tidak akan ada banyak orang yang bertanya "kerja dimana sekarang?". Karena pertanyaan itu sungguh sangat menyudutkan peran seorang ibu, dan pertanyaan itulah yang sangat saya benci saat itu.😡
2 tahun berlalu, saya berhasil mempertahankan jati diri saya sebagai seorang Ibu Rumah Tangga. Sempat mengajar di sebuah kampus swasta, namun tidak bertahan lama karena ternyata saya kurang nyaman jika harus berhadapan dengan mahasiswa/i. Keinginan-keinginan untuk melamar kerja tentu bukan tidak ada. Suami pun tidak melarang dan mempersilakan jika memang saya mau bekerja di luar rumah. Namun memang rupanya saat itu belum ada yang dirasa cocok, dan memang belum ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa.
Sampai akhirnya, di pertengahan tahun 2012, saya mendapatkan informasi lowongan kerja sebagai seorang guru TK di sebuah Raudhlatul Athfal (RA). Setelah sempat ragu karena tidak memiliki latar belakang pendidikan guru, akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba melamar menjadi guru TK disana. Pikir saya saat itu, tak ada salahnya mencoba dan sepertinya menjadi guru TK adalah profesi yang paling "aman" bagi seorang ibu seperti saya.
Proses wawancara kerja, berbagai tes, dan seleksi guru melalui kegiatan magang saya lalui, hingga akhirnya di akhir tahun 2012 saya menjadi guru tetap disana. Resmi menjadi seorang guru ternyata tidak membuat orang-orang berhenti bertanya. Jika sebelumnya pertanyaan mereka cukup sampai di "kerja dimana?", maka sekarang pertanyaannya pun merambah menjadi "jadi guru TK?", "Lho, sarjana komunikasi kok jadi guru TK?!", "emang bisa nyanyi?!". 🙄
Ya Ampyuuun plis deh, emangnya kerjaan guru TK itu cuman nyanyi doang setiap waktu?! Hohoho..😔 Kalo iya mungkin dari dulu yang ngajar kita TK itu bunda Iyeth Bustami, bunda Vina Panduwinata, atau Teh Melly Goeslow ya 😛. Tapi kan gak begitu juga. Yaaa.. Mungkin mereka yang bertanya itu hanya menguji keimanan dan keteguhan hati saya saja 😚.
Keadaan itulah yang membuat saya belajar bahwa kita harus belajar menahan diri dan menata hati dalam menghadapi berbagai situasi yang menghampiri, baik itu positif maupun negatif. Selama kita berada di jalan yang benar, jangan takut untuk melangkah dan tetaplah berpikir positif. Kebahagiaan kita tidak terletak pada penilaian orang lain, melainkan ada pada cara kita menilai kehidupan 💕.
(bersambung)
Selepas lulus D3 ilmu komunikasi, saya menikah dan melanjutkan kuliah S1 di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Meskipun saya hamil dan melahirkan saat kuliah tingkat akhir, Alhamdulillaah saya bisa lulus dan wisuda tepat waktu.
Masa-masa kuliah dengan perut membesar dan menyusun skripsi sambil menggendong bayi yang masih berusia 1 bulan berhasil dilalui tanpa masalah. Suami dan keluarga yang mendukung, teman-teman yang luar biasa, serta para dosen yang baik hatinya membuat semuanya terasa begitu mudah. 🤗😘 Namun, masa-masa setelah lulus itulah yang menjadi ujian yang cukup berat dalam hidup saya 😱.
Seorang sarjana ilmu komunikasi, fresh graduate dengan IPK Cum Laude dari sebuah PTN Negeri ternama di Indonesia. Anak tunggal dari Ayah yang seorang guru dan Ibu seorang PNS. Sudah menikah dan memiliki 1 orang anak. Tinggal di rumah mengurus anak dan suami. 😶
Andai saja saat itu semua orang sudah mengerti bahwa menjadi seorang Ibu Rumah Tangga adalah pekerjaan mulia, mungkin tidak akan ada banyak orang yang bertanya "kerja dimana sekarang?". Karena pertanyaan itu sungguh sangat menyudutkan peran seorang ibu, dan pertanyaan itulah yang sangat saya benci saat itu.😡
2 tahun berlalu, saya berhasil mempertahankan jati diri saya sebagai seorang Ibu Rumah Tangga. Sempat mengajar di sebuah kampus swasta, namun tidak bertahan lama karena ternyata saya kurang nyaman jika harus berhadapan dengan mahasiswa/i. Keinginan-keinginan untuk melamar kerja tentu bukan tidak ada. Suami pun tidak melarang dan mempersilakan jika memang saya mau bekerja di luar rumah. Namun memang rupanya saat itu belum ada yang dirasa cocok, dan memang belum ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa.
Sampai akhirnya, di pertengahan tahun 2012, saya mendapatkan informasi lowongan kerja sebagai seorang guru TK di sebuah Raudhlatul Athfal (RA). Setelah sempat ragu karena tidak memiliki latar belakang pendidikan guru, akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba melamar menjadi guru TK disana. Pikir saya saat itu, tak ada salahnya mencoba dan sepertinya menjadi guru TK adalah profesi yang paling "aman" bagi seorang ibu seperti saya.
Proses wawancara kerja, berbagai tes, dan seleksi guru melalui kegiatan magang saya lalui, hingga akhirnya di akhir tahun 2012 saya menjadi guru tetap disana. Resmi menjadi seorang guru ternyata tidak membuat orang-orang berhenti bertanya. Jika sebelumnya pertanyaan mereka cukup sampai di "kerja dimana?", maka sekarang pertanyaannya pun merambah menjadi "jadi guru TK?", "Lho, sarjana komunikasi kok jadi guru TK?!", "emang bisa nyanyi?!". 🙄
Ya Ampyuuun plis deh, emangnya kerjaan guru TK itu cuman nyanyi doang setiap waktu?! Hohoho..😔 Kalo iya mungkin dari dulu yang ngajar kita TK itu bunda Iyeth Bustami, bunda Vina Panduwinata, atau Teh Melly Goeslow ya 😛. Tapi kan gak begitu juga. Yaaa.. Mungkin mereka yang bertanya itu hanya menguji keimanan dan keteguhan hati saya saja 😚.
Keadaan itulah yang membuat saya belajar bahwa kita harus belajar menahan diri dan menata hati dalam menghadapi berbagai situasi yang menghampiri, baik itu positif maupun negatif. Selama kita berada di jalan yang benar, jangan takut untuk melangkah dan tetaplah berpikir positif. Kebahagiaan kita tidak terletak pada penilaian orang lain, melainkan ada pada cara kita menilai kehidupan 💕.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar