5. Homeschooling

Homeschooling (HS). Istilah itu sebenarnya sudah tidak asing bagi saya. Sejak zaman masih sekolah dasar, rasanya saya sudah sering mendengar istilah itu. Dulu, yang saya pahami homeschooling itu adalah sekolah di rumah. Jadi saya taunya HS itu adalah pilihan bagi mereka yang sibuk dan tidak bisa mengikuti jadwal sekolah formal pada umumnya. Contohnya seperti para artis yang sibuk syuting sehingga tidak bisa sekolah formal. Jadi mereka tetap sekolah di rumah dengan memanggil guru ke rumah atau bisa juga ke tempat lain (lokasi syuting, dsb).

Ternyata..pada kenyataannya tidak begitu 😂. Entah persepsi saya yang selama ini salah, atau memang ada perubahan konsep seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju. Dari beberapa referensi yang saya baca, homeschooling dan sekolah sebetulnya sama-sama merupakan alat yang digunakan untuk meraih tujuan-tujuan pendidikan. Yang membedakan, ketika orangtua memilih sekolah, itu berarti 
orangtua memilih untuk mendelegasikan pendidikan anak-anaknya pada sebuah lembaga dan ditangani oleh para profesional di sekolah. Sementara itu, homeschooling adalah sebuah model pendidikan di mana orangtua memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya. (sumber: Rumah Inspirasi).

Dengan demikian, ketika saya memutuskan untuk HS, maka saya harus siap menjadi ibu sekaligus guru bagi anak-anak. Tapi jika dipikirkan lebih jauh, bukankah memang tugas seorang ibu itu adalah guru utama bagi anak-anaknya?. Al-Ummu Madrasatul Ula, Ibu adalah madrasah/sekolah utama bagi anak-anaknya. Itulah mengapa perempuan dan laki-laki memiliki kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu. Bukan untuk menandingi laki-laki, tetapi untuk menyiapkan diri menjadi 'madrasatul ula' bagi anak-anaknya kelak. Karena meskipun anak-anaknya bersekolah di sekolah formal, tanggung jawab utama pendidikan anak ada di tangan orangtuanya.

Jadi, sebenarnya tak ada yang aneh dengan homeschooling. Hanya saja, HS memang belum terlalu memasyarakat di Negara kita, sehingga sebagian besar masyarakat masih menganggap jika HS itu adalah sesuatu yang 'tidak wajar'. Maka sebenarnya tantangan yang paling besar bagi saya adalah meyakinkan diri dan keluarga bahwa HS adalah pilihan yang tepat bagi si bungsu. Saya tidak menganggap HS lebih baik dari sekolah formal, tapi juga bukan berarti sekolah formal lebih baik daripada HS. Jika diibaratkan obat, HS itu adalah salah satu pilihan alternatif selain sekolah formal. Jadi setiap orang memiliki hak untuk memilih alternatif mana yang terbaik bagi dirinya. Bisa jadi HS baik bagi anak saya, tapi tidak bagi anak lainnya.


(bersambung)

Komentar

  1. Halo Nannet, seneng akhirnya ada sodara yang ngeblog. Apalagi ini lagi obrolin homeschooling. Sebenernya aku juga pengen coba HS Net, lg siapin mental jg gmn cara ngeyakinin keluarga, gimana cara ngadepin omongan orang yang bisa bikin patah semangat untuk jalanin HS. Kalo ada sodara sendiri yg uda jalanin duluan, enak jadinya bisa belajar dr pengalaman Nannet. Wish me Luck juga ya Net!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah.. Aduuh ini sebenernya juga gak terlalu pede buat bikin blog 😁. Masih harus banyak latihan.hihi.. Begitupun ngejalanin HS sekarang ini. Masih tertatih-tatih dan penuh perjuangan. Tantangannya memang lebih sulit ternyata y.. Tapi insyaAllah kalau kita udah yakin, akan mudah juga nanti untuk meyakinkan orang-orang di sekitar kita. Semangat ya saiii.. Kita sama-sama berjuang dan saling mendo'akan 😘🤗

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer