3. Resign

Selama kurang lebih 7 tahun, hari-hari sebagai ibu rumah tangga yang merangkap menjadi guru TK berjalan dengan baik. Tugas mengasuh anak masih bisa tertangani,  meskipun kadang-kadang ada kalanya juga dengan terpaksa anak-anak dititip ke nenek atau bibi nya 🙈😂. Alhamdulillaah sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah yang 'ramah anak'. Selama masih bisa tertangani, ibu guru yang memiliki anak yang belum bersekolah boleh membawa anaknya ke sekolah. Sekarang malah sudah ada fasilitas Baby House, sehingga putra putri guru usia bayi dan toddler sudah bisa ikut belajar dan bermain disana.

Sejak usia play group, anak-anak saya bersekolah di tempat saya mengajar. Hal itu tentu memudahkan saya dalam proses pengasuhan mereka. Apa yang diterapkan di sekolah sedikitnya bisa diterapkan pula di rumah. Dan yang paling penting, saya bisa tetap tenang mengajar karena anak-anak pun berada di sekitar saya.

Seprofesional-profesionalnya seorang ibu bekerja, pastinya akan ada saja konsekuensi dari ketidakhadirannya di rumah secara utuh.  Saya tidak bermaksud menggeneralisir semua ibu bekerja, tapi dari hasil pengamatan, bincang-bincang, dan pengalaman pribadi, begitulah kenyataannya. Begitupun saya. Meski tugas mengasuh anak tetap aman, tapi nyatanya saya memerlukan tenaga "outsourcing" untuk mengerjakan sebagian pekerjaan rumah saya yang keteteran 😂. Satu minggu sekali tenaga outsourcing itu datang untuk membantu menyetrika pakaian. Sementara dalam hal memasak, selain masak air, nasi, telur, dan mie, saya taluk kalau harus disuruh masak memasak. Maka dari itu saya selalu menghibur hati suami dengan kalimat sakti "yang sedang kita bangun itu rumah tangga kan sayang, bukan rumah makan" 😚😂.

Begitulah kurang lebih kehidupan saya selama 7 tahun sebagai seorang istri, ibu dari 2 orang anak, dan guru di sebuah sekolah TK. Jika diibaratkan mobil, saya terus melaju di jalur yang saya yakini akan membawa saya pada tempat-tempat yang sudah Allah takdirkan. Meskipun dalam perjalanannya sudah pasti menemukan banyak tanjakan, jalan berlubang, polisi tidur, atau bahkan kemacetan. Rasa bosan, jenuh, dan lelah kadang hadir ketika pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah tidak bisa terkondisikan. Namun, biasanya masalah-masalah psikologis dan emosional itu bisa cepat teratasi sehingga tidak berkepanjangan.

Meski tak selamanya mulus, perjalanan karier saya sebagai guru TK bisa dibilang cukup mengasyikkan. Ada banyak tantangan yang membuat saya terus belajar dan mencoba berbagai hal. Tak hanya sebagai guru pendamping, saya bisa belajar mengenai kurikulum anak usia dini bersama tim kurikulum sekolah. Di tahun keenam, saya pun dipercaya menjadi wali kelas di kelompok play group sekaligus menjadi humas sekolah. Yes, finally.. Seorang sarjana ilmu komunikasi yang mengambil jurusan humas bisa merasakan juga menjadi seorang humas yang sesungguhnya 😂😊.

Sejak awal saya bekerja, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan saya. Begitupun dalam urusan keluarga. Saya selalu mengusahakan agar apapun yang saya lakukan di luar rumah tidak mengganggu peran utama saya di rumah. Semuanya berjalan lancar, sampai pada akhirnya.. Di tahun ketujuh, tepat di akhir tahun 2019, saya memutuskan untuk RESIGN.


(bersambung)

Komentar

Postingan Populer