Pada Waktu itu

Tiga puluh tiga tahun yang lalu, aku lahir sebagai anak pertama dari sepasang suami istri yang telah hampir tujuh tahun menantikan kehadiran buah hati. Rupanya, aku ditakdirkan Allah menjadi anak satu-satunya yang menjadi bagian keluarga mereka.

Enam belas tahun yang lalu, aku memberanikan diri merantau ke luar kota untuk menuntut ilmu. Selama disana, ada banyak sekali pelajaran hidup yang membuatku menjadi lebih dewasa.

Tiga belas tahun yang lalu, aku merasa sangat bahagia karena menikah dengan pria yang mampu melengkapi ketidaksempurnaanku.

Sebelas tahun yang lalu, hadirnya seorang bayi laki-laki membuat kebahagiaanku semakin terasa sempurna.

Sembilan tahun yang lalu, kepergian Bapak untuk selamanya menjadi salah satu duka yang paling mendalam bagiku.

Delapan tahun yang lalu, Allah mengamanahkan kembali seorang bayi laki-laki yang semakin melengkapi kebahagiaan keluargaku. Di tahun itu pula, aku resmi menjadi guru tetap yayasan di sebuah sekolah swasta untuk anak usia dini.

Tiga tahun yang lalu, aku semakin berbinar menjalani peran di ranah publik sebagai guru, karena mendapat peran tambahan menjadi Humas di lembaga tersebut. Peran yang selama ini aku impikan sebagai seorang sarjana ilmu komunikasi yang mengambil jurusan Hubungan Masyarakat (Humas).

Dua tahun yang lalu, anak bungsuku yang saat itu baru menginjak bangku SD tiba-tiba mogok setelah kurang lebih tiga bulan masuk sekolah. Di tahun yang sama, akhirnya aku memutuskan untuk melepas peran di ranah publik sebagai guru.

Setahun yang lalu, aku fokus di ranah domestik dan menjalankan homeschooling bersama anak bungsuku. Di tahun yang sama, aku diminta tetap menjadi Humas di lembaga pendidikan tempatku mengajar, tanpa ada kewajiban untuk datang ke sekolah.

Tahun ini, ada banyak harapan yang kuukir dalam ingatan dan kutuangkan dalam catatan. Semoga masih ada waktu bagiku untuk mengukir kisah hidup penuh warna dan kaya akan rasa syukur serta kebahagiaan.

Masya Allah Tabarakallah..
Begitu luar biasa skenario yang telah digariskan Allah SWT.
Suka dan duka tentu akan selalu hadir mewarnai kehidupan kita.
Terkadang kita lupa untuk bersyukur saat dirundung duka, padahal sejatinya akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. 

Komentar